Tampilkan postingan dengan label ~ Teori Komunikasi ~. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ~ Teori Komunikasi ~. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Interpersonal Deception Theory

Interpersonal Deception Theory ( David Buller and Judee Burgoon)
Dalam menjalani interaksi sosial kita dihadapi oleh berbagai macam kondisi yang sadar atau tidak, telah melibatkan diri kita kedalam apa yang dinamakan “Teori Penipuan Antarpribadi” oleh David Buller dan Judee Burgoon.
Proses menjalin hubungan, baik dengan pacar, teman, keluarga, pimpinan, ataupun guru/dosen tidak selalu mulus dan harus pandai mensiasati agar dapat menjaga hubungan yang telah terjalin baik sebelumnya. Contohnya dalam teori ini jelas mengemukakan tentang “Penipuan dalam beriteraksi Antar Pribadi”. Berikut adalah contoh – contoh kasus penipuan antarpribadi dengan kondisi yang berbeda – beda :
 
Contoh 1 : Tujuan penipuan adalah untuk mengamankan wajah atau membenarkan tindakan.
       Putri adalah anak rumahan yang sangat jarang sekali keluar rumah kecuali untuk bekerja dan kuliah, diluar daripada itu Putri selalu ijin orang tua apabila ingin keluar rumah. Putri memiliki pacar bernama Beno. Suatu ketika sehabis pulang kuliah, putri dijemput oleh Beno tetapi kali ini tidak langsung pulang kerumah melainkan mampir dulu ke Mall untuk nonton film terbaru “Ayat-ayat cinta”, karena tahu pasti tidak diijinkan apabila memberitahukan alasan sebenarnya maka putri memberitahu kedua orang tuanya dengan alasan “Mau mampir ke Mall untuk lihat – lihat buku di gramedia dulu”. Dan putripun bersama Beno mampir ke Gramedia dahulu sebelum nonton Ayat-ayat cinta.
 
Contoh 1 (satu) tersebut adalah gambaran “Teori Penipuan Antar Pribadi” yang berjalan dengan tetap mengatakan kejujuran tetapi tidak menceritakan secara keseluruhan. Dalam teori penipuan antar pribadi biasa disebut Concealment (Penyembunyian).
Putri dapat juga memberi alasan “Ada Matakuliah tambahan sehingga pulangnya telat”. Teori penipuan yang dilakukan oleh Putri adalah Falsification (pemalsuan), jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Selain itu apabila putri ingin memberikan alasan yang meyakinkan dan tidak ingin terlihat adanya suatu penipuan atau tidak ingin terjadi kebocoran (Pengelakan), Putri bisa saja memberikan alasan yang tegas seperti “Pulang kuliah kali ini agak telat ya mah..daghh !”.
 
Contoh 2 (dua) : Tujuan penipuan adalah untuk mengamankan wajah atau membenarkan tindakan.
 
        Citra dan Robi saling menyukai satu sama lain, namun keduanya masih malu untuk saling mengakui perasaan masing – masing karena baru saja kenal. Tetapi ada saja alasan yang menjadikan mereka saling berinterkasi satu sama lain. Suatu ketika Robi ingin meminjam Novel “Ayat-ayat cinta” milik citra padahal Robi juga baru saja beli kemarin sore. Pada keesokan harinya tak diduga Citra menemui Robi diruang kerjanya dan melihat ada dua Novel “Ayat-ayat cinta” dimeja Robi, spontan Citra bertanya “Ko ada dua novelnya, yang satu punya kamu yah…?”dengan penuh curiga. Dalam hal ini Robi bisa saja memberi alasan berbagai macam.
 
Contoh 2 (dua) tersebut adalah kondisi yang membutuhkan Teori penipuan agar Robi tidak terlihat bahwa dia hanya mencari alasan saja agar tetap bisa berinterkasi dengan Citra sehingga bisa membuat Robi malu dimata citra . Robi bisa saja berbohong melakukan Falsification (Pemalsuan) dengan mengatakan “Itu bukan punyaku melainkan punya si Romi tadi dia pamer bahwa dia juga punya novel bagus ini, eh malah tertinggal dimejaku”.
Atau Robi bisa saja mengatakan “Oh iya itu punyaku merasa tertarik jadi aku beli kemarin, itu novelmu mau aku balikin, kebetulah kamunya kesini”, dalam kondisi ini Robi masih mengatakan kejujuran tetapi tidak keseluruhan Concealment (Penyembunyian), Robi memang baru beli novel kemarin (tetapi tidak dijelaskan kemarin kapan), dan novel milik Citra spontan langsung dikembalikan agar tidak terjadi kebocoran.
Terakhir Robi dapat juga mengatakan secara tegas kepada citra “Iya, aku baru beli di mall kemarin”, pernyataan tersebut merupakan suatu Equivocation (Pengelakan) untuk menghindar dari penceritaan yang lebih detail.
 
Contoh 3 (tiga) : Tujuan Penipuan untuk menetapkan atau memelihara suatu hubungan yang baik dengan responden.
 
        Sinta dan Ratih adalah teman akrab satu kelas. Namun entah kenapa Ratih sangat tidak menyukai teman sekelas mereka yang bernama Nisa, tetapi tidak dengan Sinta. Suatu ketika Nisa curhat dengan Sinta tentang sikap Ratih yang selama ini membuat dirinya sedih, tanpa disadari oleh mereka, Ratih mengetahui bahwa mereka sedang berbicara serius, dan tentu saja menimbulkan rasa penasaran Ratih terhadap apa yang mereka bicarakan. Dan menanyakan langsung kepada Sinta. Sinta aku tadi melihatmu sedang berbicara serius dengan Nisa, apa yang kalian bicarakan?.
 
Alasan apa yang harus diberikan oleh Sinta kepada Ratih agar pertemenan dengan Nisa maupun Ratih tidak terusik?. Pertama, Sinta dapat mengatakan kepada Ratih secara jujur namun tidak menyeluruh, “Nisa hanya menanyakan tentang sikapnya apakah selama ini ada yang salah sehingga membuat dirinya merasa tidak disukai”. Kedua, Sinta mengatakan pemalsuan, “Nisa hanya menanyakan tentang kisi – kisi ujian yang akan keluar besok, sebab kemarin dia gak masuk”. Ketiga, Nisa berkata tegas dan berdalih “Nisa curhat tentang dirinya aja kok!”.

Expectancy Violations Theory

Expectancy Violations Theory (by Judee Burgoon)
Contoh Kasus:
Ketika saya sedang ditest kesigapan tubuh, kesempurnaan tubuh dalam posisi tegak dan baris berbaris pada waktu melamar sebagai Polwan. Jarak dari para polisi yang mengetest saya adalah 12 feet, yaitu sangat formal.
Karena pada waktu itu, dalam berpakaian di tuntut mengenakan celana diatas lutut 4 cm, agar terlihat bentuk kaki dalam situasi tegap. Terdapat salah satu satu polisi menghampiri dan memperhatikan kami sampai jarak 2 feet dimana dalam EVT jarak ini adalah jarak personal. Kamipun merasa risih pada saat polisi itu menghampiri kami. Karena kami berfikir polisi tersebut sedang memanfaatkan situasi.
Setalah polisi tersebut mendekati, salah seorang teman saya, dan mengatakan ”Posisi kamu tidak bisa lebih tegap?”, sambil memperhatikan bentuk kaki teman saya dan ternyata bentuk kaki teman saya berbentu ”O”. Dari hal itu, ternyata polisi tersebut tidak sedang memanfaatkan situasi ternyata benar – benar ingin memperhatikan lebih detail kondisi fisik calon bintara Polwan.
Teori EVT mengatakan terdapat empat proxemics zones yaitu intimate, personal, social dan public. Masing – masing memiliki makna tersendiri.
            Intimate distance 0 – 18 inches, biasanya seperti jarak antara suami istri atau kekasih, dalam hubungan mesranya.
Personal Distance yaitu 18 inches – 4 feet, biasanya untuk teman dan keluarga. Pada saat polisi menghampiri kami sampai berjarak 2 feet, kami merasa sangat tidak nyaman, apabila saya tidak dalam pegetesan saya harus menjauh dan pergi dari tempat itu. 
Social Distance yaitu 4 – 12 Feet, Resmi dibanding dari personal. Seperti pada saat melakukan test kesigapan tubuh, kesempurnaan tubuh dalam posisi tegak dan baris berbaris, pada saat melamar Polwan.  
Public Distance 12 feet and beyond, jarak ini sangat format seperti seorang pembicara dalam seminar bersama peserta seminar.

Source :

Cultural Approach to Organizations

 Critical Theory of Communication Approach to Organizations (by Stanley Deetz)
 
Professor Stanley deetz dari universitas Colorado mengembangkan teori komunikasi kritis untuk mendalami kondisi kesehatan managemen keuangan perusahaan. Dia berpendapat bahwa perusahaan telah menjadi lahan politik walaupun kenyataanya perusahaan adalah sebuah institusi ekonomi. Selanjutanya dia membuat kemajuan dalam teori komunikasi dalam perusahaan dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Dan akhirnya beliau memberikan solusi bagaimana tempat kerja menjadi lebih demokratis dan produktif melalui perubahan komunikasi.
 
Contoh kasus.
  1. Konsep Coporate colonization of everyday life
Saya bekerja di dalam perusahaan dimana di situ saya bekerja selama 10 jam sehari dari tahun ke tahun gaji yang saya terima tidak ada peningkatan signifikan. Kehidupan selalu terikat dengan jam kerja yang mesti diikuti sehari – hari dan kalau tidak di ikuti berarti melanggar rule. Setelah sekian lama bekerja gaji yang di terima masih tetap tidak signifikan sedangkan di level pimpinan keuntungan mereka sangat tinggi sebagai karyawan bawahan saya mengalami ini dari sini terlihat bahwa perusahaan telah memberlakukan kolonisasi. Dimana jam kerja yang terkadang sampai  lembur tapi hasilnya tidak berimbang.
 
  1. Strategy Overt Managerial Moves extend control
Disini para pimpinan saya para manager mereka melakukan semua keputusan untuk menyelesaikan masalah yang terkadang tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka yang terkadang bertentangan yang lebih di pentingkan adalah tanggung jawab dan tugas mereka dalam menjalankan perusahaan.
 
  1. Consent – Willing Allegiance to Covert Control
Perusahaan di kantor saya mengharapkan saya bekerja dengan loyalitas tinggi , lebih di dahulukan dari keluarga ataupun yang lain dengan begitu perusahaan mendapatkan keuntungan tapi di pihak karyawan seperti saya itu cukup tidak nyaman dalam kenyataan. Dan perusahaan berharap para karyawan untuk loyalitas tinggi tapi dengan membayar lebih murah.
 
  1. Involvement – Free expression of ideas but no voice
Di sini saya akan merasa sinis dengan keputusan yang di buat oleh pimpinan atau manager di kantor saya karena saya merasa tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan. Saya melakukan keputusan yang mereka perbuat tanpa merasakan saya terlibat di dalamnya. Dan di sini sebenarnya demokrasi di perusahaan itu tidak terlaksana.
 
  1. Participation
Keterlibatan saya dalam pengambilan keputusan itu akan mempengaruhi pekerjaan saya. Karena saya merasa terlibatkan saya akan bekerja dengan bertanggun jawab dan mengikuti semua keputusan dengan nyaman dan senang. Tapi di perusahaan kebanyakan hal ini tidak di perhatikan mereka lebih mementingkan keuntungan mereka tanpa melibatkan partisipasi karyawan.
 
  1. Empowerment Rooted in Values
Saya akan berloyalitas bekerja senang dan juga nyaman dalam keseharian di kantor atau perusahaan tempat saya bekerja. Apabila merasa fun, ada keadilan yang di berikan management, pertanggung jawaban social, dan juga integeritas.

Source : http://komunikasi-indonesia.org/2009/05/critical-theory-of-communication-approach-to-organizations/#more-post-471

Spiral of Silence Theory

Teori Spiral Keheningan ( Berdasarkan penelitian Elisabeth Noelle – Nueman)

Carol Johansen
Tiap pagi, carol johansen menghadiri acara makan pagi kaum lanjut usia di pusat lanjut usia lokal. Sebenarnya ia bisa makan pagi di restoran, tetapi ia pergi ke pusat tersebut karena ia menyukai teman – temannya. Di sana ia bertemu dengan berbagai macam karakter, termasuk Earl, seorang veteran Perang Dunia I yang menyanyikan lagu – lagu Broadway; Nancy , seorang mantan perawat yang menceritakan banyak cerita menarik mengenai mantan pasiennya; dan Nick, seorang penangkap lobster yang merupakan pembaca surat kabar yang setia. Sarapan pagi ini menarik karena percakapan mereka segera membahas mengenai artikel surat kabar tentang memukul anak.
Nick membaca artikel tersebut kepada seluruh kelompok, dan setelah ia selesai, ia mengemukakan pendapatnya mengenai topik tersebut: ” Aku setuju dengan penulis ini. Aku tek melihat sesuatu yang salah mengenai memukul anak. Coba lihat survei di surat kabar ini. Lebih dari 60 persen orang dari negara bagian ini percaya bahwa tidak masalah memukul anak, tetapi hanya 40 persen dari seluruh negara yang berfikir bahwa ini bukan masalah. Sekarang, kita sama sekali tak bisa memukul anak. Mereka akan menuntutmu, atau akan ada seorang pekerja sosial yang datang ke rumahmu dan mengambil anakmu. Ini tidak benar.”
“Aku setuju,” kata Nancy. “Kalau saja kalian tahu anak tetanggaku yang berusia hampir 8 tahun, ia anak yang sangat-sangat bandel. Tetapi ibunya sama sekali tak mau menyentuhnya! Aku tak mengerti. Kalau saja dia itu anakku, aku tidak akan keberatan memukulnya! Ayah dan ibu anak itu tidak mau memberikan ‘kesan yang keliru’ pada anak itu dan jadinya ia sering kali bebas melakukan kenakalnnya.”
Earl menjadi semakin tertarik dengan pembicaraan itu ketika Nancy berbicar. Seperti yang lain, Earl memiliki pendapat yang sangat kuat mengenai topik tersebut; “Coba. Berap banyak orang di meja ini yang di pukul ketika masih kecil?”. Dan berapa dari kalian yang merasa bahwa kalian adalah orang yang suka melakukan kekerasan.” Tak ada tanggapan . “Nah. Itu masalahanya. Sekarang orang mengatakan bahwa jika kita memukul anak kita, mak aanak kita akan menjadi orang yang suka melakukan kekerasan. Tapi lihat kita semua. Kita tidak begitu. Kita tidak melukai siapa pun. Ini semua terlalu berlebihan, dan banyak orang tua tidak memiliki hak lagi.”
Carol terus menatap salah satu surat kabar Nick. Ia, seperti lainnya memiliki pendapat mengenai topik itu. Tetapi pemikirannya berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak setuju dengan memukul anak sama sekali. Ia telah di pukul, sama seperti temannya yang lain, tetapi ayahnya tidak tahu kapan harus berhenti. Carol sering kali disiksa secara fisik. Ia berfikir mengenai orang tua yang tidak bisa berhenti setelah memukul satu kali. Ia juga berfikir apa yang dapat dicapai dengan memukul anak. Anak – anak harus di ajarkan apa yang benar dan salah, menurutnya, tanpa harus dipukul.
“Hei, Carol,” Nick memotong, ” kamu diam sekali hari ini. Bagaimana menurutmu tentang semua ini?”
Carol berfikir sejenak. Haruskah ia tidak sepakat dengan semua temannya? Bagimana dengan semua orang di masyarakat yang juga setuju dengan hal ini? Carol mengingat kembali sebuah acara berita mengenai topik ini seminggu lalu, dan reporternya telah mewawancara beberapa anak dewasa yang pernah di pukul, dan yang merasa bahwa memukul adalah satu – satunya cara yang di gunakan utnuk mendisiplinkan mereka selama masa kecil mereka. Ia tahu bahwa dirinnya tidak sepakat dengan semua teman makan paginya, tetpi bagaimana ia dapat mulai menjelaskan semua pemikirannya? Mereka tidak akan mengerti . Mungkin lebih baik ikut dena arus saja, pikiranya.
“Oh, aku tidak tauh. memang ada anak yang membutuhkan ‘perhatian lebih’. Tetapi terkadang orang tua bisa mnjadi terlalu marah.”
“Ayolah Carol,” Nanci memotong, “Kamu tak bisa setuju dengan dua hal sekaligus. Ada banyak…”
” Yah, kurasa aku setuju dengan hal itu. Aku hanya berharap bahwa itu tidak dilakukan terlalu sering keapda anak.”
Ketika seorang sukarelawan di tempat sarapan itu datang untuk menuangkan kopi, percakapan deng acepat bergeser pada berita yang lainnya. Diam – diam Caro berfikir mengenai mengapa iat elah mendukung pemikiran kelompiknya. Ia tidak ingin sendirian dalam berpendapat, dan ia juga tidak mau menceritakan cerita masa lalunya yang personal dan mengerikan. Ketika Nick mulai berbicara mengenai pertemua dewan kota malam sebelumnya, Carol bertanya – tanya apakah ia akan pernah bisa mengemukakan pendapatnya mengenai tpik itu lagi.

Opini yang kita miliki mengenai peristiwa, orang, dan topik berubah secara periodik dalam kehidupan kita. pikiran, misalnya, opini Anda mengenai berkencan ketia Anda berusia 15 tahun dan opini Anda mengenai berkencan saat ini. Atau coba pikirkan opini yang Anda miliki terhadap orang tua. Anda semasa kanak – kanak dan yang anda miliki kini. Bahkan pendapat anda mengenai topik yang beragam–termasuk hubungan seks di luar nikah dan cara membesarkan anak–mungkin telah berevolusi sejalan dengan tahun-tahun yang telah Anda lalui. Opini kita bukanlah sesuatu yang bersifat statis dan sering kali berubah sejalan dengan waktu. Salah satu pengaruh penting pada pendapat kita adalah media. Media telah membantu membentuk siapa kita saat ini. Sering kali, pengaruh kita adalah media. Media telah membantu membentuk siapa kita saat ini. Sering kali, pengaruh ini tidak kentara; dan pada kesempatan lainnya pengaruh itu lebih nyata. Pengaruh media terhadap opini publik adalah apa yang dipelajari oleh Elizabeth Noelle-Neumann, yang dapat di lacak kembali hingga pada tahun 1930-an dan 1940-an. Tetapi , ia mengonseptualisasikan Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory) pada awal 1070-an.
Noelle-Nuemann berfokus pada apa yang terjadi ketika orang menyatakan oponi mereka mengenai topik-topik yang telah didefinisikan oleh media bagi publiknya. Teori Spiral Keheningan menyatakan bahwa orang yang yakin bahwa mereka memiliki sudut pandang yang minoritas mengenai isu-isu publik akan tetap berada di latar belakang di mana komunikasi akan di batasi ; mereka yang yakin bahwa mereka memiliki sudut pandang yang mayoritas akan lebih terdorong untuk membuka suara. Noelle-Neumann (1983) menyatakan bahwa media akan berfokus lebih ke pandangan mayoritas, dan meremehkan pandangan minoritas. Mereka yang minoritas akan menjadi lebih tidak asertif dalam mengkomunikasikan oponi mereka, dan karenanya menyebabkan munculnya sebuah spiral komunikasi yang bergerak ke bawah. Hal yang menarik, mereka yang berada di dalam kaum mayoritas akan menilai pengaruh mereka secara berlebihan dan dapat menjadi semakin berani dalam komunikasi mereka. Sebagai akibatnya, media akan melaporkan opini dan kegiatan mereka.
Pandangan minoritas dari Carol Johansen dan perilaku dari teman-teman sarapannya menggarisbawahi inti dari Teori Spiral Keheningan. Mendengarkan opini koleganya mengenai memukul, Carol merasa bahwa ia sendirian dalam berfikir bahwa memukul itu salah. Teori ini Menyatakan bahwa Carol di pengaruhi oleh pelaporan media bahwa 60 persen dari warga negara bagian itu mendukung memukul anak untuk mendisiplinkan mereka dan juga oleh ingatannya sendiri mengenai sebuah berita televisi yang menyatakan keuntungan memukul anak dengan menghadirkan anak-anak yang telah dewasa dan pernah di pukul semasa kecil. Carol menganggap pandangannya sebagai pandangan minoritas dan sebagai akibatnya ia makin sedikit berbicara. Sebaliknya, mereka yang setuju dengan memukul sebagai cara mendisiplinkan anak ( Nick, Nancy, dan Earl) tanpa diragukan telah terinspirasi oleh respons survei negara bagian; hal ini mendorong komunikasi yang lebih asertif lagi dari mereka.

Sekilas Teori-teori Spiral Keheningan Karena kekuasaanya yang begitu besar, media memiliki dampak yang awet dan mendalam terhadap opini publik. Media massa bekerja secara berkesinambungan dengan menyuarakan opini mayorits untuk membungkam opini minoritas khususnya mengenai isu-isu budaya dan sosial. Rasa takut akan adanya isolasi menyebabkan mereka yang memiliki pandangan minoritas untuk mempelajari keyakinan orang lain. Individu-individu yang takut terisolasi secara sosial rentan untuk sepakat dengan apa yang mereka anggap sebagai pandangan mayoritas. Walaupun begitu, individu-individu yang terbungkam ini terkadang menyuarakan pendapat mereka melalui kegiatan aktivisme.
Perbedaan antara pandangan mayoritas dan minorits ini di pusat lansia diklarifikasikan lebih jauh oleh Noelle-Neumann (1991). Ia Percaya bahwa mereka yang berbeda dalam kelompok mayoritas memiliki kepercayaan diri untuk menyuarakan pendapat mereka. Mereka akan menunjukkan keyakinan mereka dengan memaki kancing, memasang stiker mobil, dan mencetak pendapat mereka pada pakaian ayng mereka kenakan. Pemegang pendapat minoritas biasanya berhati-hati dan diam, yang memperkuat persepsi publik mengenai kelemahan mereka. Nick, Nancy dan Earl jelas terlihat sangat yakin akan pendapat mereka, sementara Carol menunjukkan sikap lemah karena ia kurang asertif dalam mengekspresikan opininya.
Teori Spiral Keheningan secara unik menyilangkan opini publik dan media. Untuk lebih memahami perbatasan ini, pertama-tama akan diuraikan pemikiran mengenai opini publik, komponen utama dari teori ini. Kemudian tiga asumsi dari teori ini akan dibahas.
Mimbar Opini Publik
Sebagai seorang peneliti, Noelle-Neumann tertarik dalam mengklarifikasi istilah-istilah yang mungkin dapat memiliki banyak makna. Istilah yang terletak pada inti dari Teori Spiral Keheningan adalah istilah yang secara umum diterima tetapi menurutnya sering kali disalahartikan: opini publik. Sebagai pendiri dan direktur Allensbach Institute, sebuah lembaga jajak pendapat di Jerman, Noelle-Nuemann berpendapat bahwa interprestasi mengenai opini publik sering keliru. Bahkan, walaupun ia mengidentifikasi lebih dari lima puluh definisi istilah ini semenjak teori ini di cetuskan, tak ada satu definisi pun yang dapat membuatnya puas.
Dalam Bukunya yang diberi judul secara provokatif, The Spiral of Silence: Public Opinion Our Social Skin ( Spiral Keheningan: Opini Publik- kulit sosial kita). Noelle Nuemann (1984 -1983) memisahkan opini publik menjadi dua istilah yang terpisah: opini dan publik. Ia melihat bahwa tiga makna dari public. Pertama, terdapat asosiasi hukum dengan istilah ini. Publik mengisyaratkan keterbukaan bagi semua orang, seperti dalam “tanah publik” atau “wilayah publik”. Kedua, publik berkaitan dengan konsep yang berhubungan dengan isu-isu atau orang, seperti di dalam “tanggung jawab publik para jurnalis.” Terakhir, publik mewakili sisi sosial-psikologis dari manusia. Yaitu, orang tidak hanya berfikir di dalam dirinya saja, tetapi juga berfikir mengenai hubungan mereka dengan orang lain. Frase “tatapan publi” sangat relevan di sini. Noelle-Nuemann menyimpulkan bahwa individu-individu mengetahui apakah mereka terpapar atau terlindung dari tatapan publik, dan mereka menyesuaikan diri berdasarkan hal tersebut. Ia menyatakan bahwa sisi sosial psikologis dari publik telah di abaikan dalam interprestasi-interprestasi sebelumnya mengenai opini publik, tetapi” ini adalah makna yang dirasakan oleh orang pada kulit sosial mereka yang sensitif ” (1993, hal. 62).
Opini (opinion) adalah ekspresi dari suatu sikap . Opini dapat bervariasi baik dalam hal intensitas dan stabilitas. Dengan melihat pada interprestasi awal dalam bahasa Perancis dan bahas Inggris dari opini, Noelle-Nuemann menyatakan bahwa opini adalah tingkat persetujuan dan populasi tertentu. Dalam proses spiral keheningan, opini sama artinya dengan sesuatu yang dianggap berterima.
Menggabungkan kesemua hal ini, Noelle-Nuemann mendefinisikan opini publik( Public Opinion) sebagai ” sikap atau perilaku yang harus di eskpresiakan seseorang di depan publik jika ia  tidak ingin menyebabkan dirinya terisolasi; dalam area-area kontroversi atau perubahan, opini publik adalah sikap yang dapat diekspresikan tanpa harus memunculkan bahaya akan ioslasi terhadap dirinya” (hal.178). Jadi, bagi Carol Johansen, opininya mengenai memukul anak tidak akan di anggap dapat diterima oleh kelompokmakan paginya. Karena ia takut terisolasi dari komunitas pagi harinya, ia membungkam pendapatnya sendiri.
Pada intinya, opini publik merujuk pada sentimen kolektif dari sebuah populasi terhadap subjek tertenu. Sering kali, media menentukan subjek apa yang menarik bagi orang, dan media sering membuat suatu subjek menjadi kontroversial. Misalnya, obat Viagra, yang di gunakan untuk mengobati impotensi, dianggap sebagai keajaiban di dunia kedokteran hingga media menemukan bahwa biaya pembelian obat ini diganti oleh pemerintah sementara kontrasespsi untuk wanita tidak. Banyak media kemudian melaporkan bahwa praktik ini bersifat seksi (di Amerika Serikat, warga negara tidak perlu membayar biaya pengobatan tertentu karena telah ditanggung oleh pemerintah, penj.). Noelle-Neumann (1991) menyatakan bahw opini publik mungkin dipengaruhi oleh siapa yang mengakui atau tidak mengakui pandangan kita. Dalam tahun 2005, Kongres Amerika Serikat memberikan suara untuk membatalkan bantuan kesehatan Medicare dan Medicaid bagi mereka yang membeli Viagra. Opini Anda mengenai apakah Anda mendukung tindakan kongres ini akan sangat mungkin di bentuk oleh para pembicara dari kedua sisi isu ini dan juga oleh teman dan anggota keluarga. Spiral keheningan adalah respons dari pegeseran opini orang lain.
Asumsi Teori Spiral Keheningan

Dengan adanya opini public sebagai dasar dari teori ini, kita sekang akan mempelajari tiga asumsi dari Teori Spiral Keheningan. Noelle-Nuemann (1991:1993) telah membahas tiga pernyataan ini sebelumnya:
  • Masyarakat mengancam individu-individu yang menyimpang dengan adanya isolasi; rasa takut terhadap isolasi sangat berkuasa.
  • Rasa takut akan isolasi menyebabkan individu-individu untuk setiap saat mencoba menilai iklim opini.
  • Perilaku publik dipengaruhi oleh penilaian akan opini publik.
Asumsi yang pertama  menyatakan bahwa masyarakat memegang kekuasaan terhadap mereka yang tidak sepakat melalui ancaman akan isolasi. Noelle-Nuemann percaya bahwa struktur masyarakat kita bergantung sepenuhnya pada orang-orang yang secara bersama menentukan dan mendukung seperangkat nilai. Dan oponi publiklah yang menentukan apakah nilai-nilai ini diyakini secara sama di seluruh populasi. Ketika orang sepakat mengenai seperangkat nilai bersama, maka ketakuatan akan isolasi akan berkurang. Ketika terdapat perbedaan nilai, ketakutan akan isolasi muncul.
Seperti para teoritikus lainnya, Noelle-Neumann tertarik dengan kemungkinan pengujian dari asumsi ini. Lagipula, menurutnya, apakah para anggota masyarakat benar-benar merasa terancam dengan adanya isolasi? Bagaimana ini mungkin? Ia percaya bahwa jajak pendapat yang sederhana tidak dapat menjelaskan area ini (misalnya, seberapa banyak anda merasa takut akan isolasi?). Pertanyaan-pertanyaan semacam ini meminta para responden untuk berfikir terlalu abstrak, karena sangat mungkin bahwa hanya sedikit saja responden yang bahkan pernah memikirkan mengenai isolasi.
Noelle-Neumann menggunakan nilai-nilai penelitian dari Solomon Asch (1951), seorang  psikolog  sosial  di tahun1950-an. Asch mengadakan eksperimen laboratorium berikut ini lebih dari lima puluh kali dengan delapan hingga sepuluh subjek (peserta) penelitian:
Garis mana dari ketiga garis dibawah ini yang sama panjang dengan garis disebelah kiri ?
________                           1. _______
2. _______________
3. ________
Anda mungkin dengan cepat akan mengatakan bahwa garis nomor 3 sama panjang dengan garis di sebelah kiri. Tetapi kelompok  subjek penelitian tidak sepakat dengan hal ini. Setelah berkeliling ruangan, para asisten peneliti (yang juga ikut menjadi partisipan dalam penelitian) semuanya menyebutkan bahwa garis nomor 1 adalah garis yang sama panjang dengan garis di sebelah kiri. Para subjek penelitian yang tidak curiga sama sekali mulai menyebut bahwa garis nomor 1 sebagai jawaban yang benar. Bahkan, Asch menemukan bahwa setelah beberapa kali, para subjek penelitian ini mulai menyebutkan jawaban yang salah itu sebagai jawaban yang benar. Asch percaya bahwa individu-individu sering kali merasa tekanan yang besar untuk sepakat dengan orang lain, walaupun orang lain mungkin saja tidak benar. Meminjam hal ini dari teori tersebut, terdapat ketakutan akan isolasi yang sangat nyata.
Elizabeth Blakeslee (2005) dari New York Times menyatakan bahwa kesimpulan penelitian Asch mengenai kesepakatan sosial masih ada hingga saat ini. Ia melaporkan implikasi dan mengikuti sebuah kelompok dalam berbagai bidang masyarakat, termasuk keputusan juri dalam pengadilan dan pemilihan umum. Ia menyatakan bahwa “ketidaknyamanan berdiri sendirian dapat membuat opini mayoritas tampak lebih menarik dibandingkan dengan berpegang pada keyakinan diri sendiri” (hal.D3).
Merespons kritik terhadap penelitian Asch-bahwa orang tidak benar – benar memiliki rasa takut akan isolasi melainkan hanya kekurangan rasa percaya diri mengenai penilaian mereka sendiri–Noelle Neumann melakukan uji ancaman akan isolasi yang lebih realistis. Ia yakin bahwa meminta subjek penelitian untuk menilai keyakinan moral atau estetika.

Source : http://komunikasi-indonesia.org/2009/05/teori-spiral-keheningan/#more-post-559

Relational Dialectics Theory

Relational Dialectics Theory by (Leslie Baxter & Barbara Montgomery)
brain1-reTheory ini menjelaskan suatu hubungan selalu mengandung kontradiksi yang mengalami perubahan dan dinamis dan diperlukan interaksi komunikasi yang berfungsi untuk merumuskan, mengatur dan menyelesaikan kontradiksi yang terjadi.
Contoh kasus :
Saya sudah berhubungan dengan kekasih saya selama dua tahun selama 2 tahun berhubungan ini saya sering terjadi hal – hal perbedan misalnya waktu kekasih saya bilang  dia merasa bahwa waktunya habis dan kebanyakan di lalui bersama, dia ingin berimbang untuk kedua orang tuanya tapi saya berpendapat lah dia buktinya masih banyak waktu ko bersama orang tuanya hari libur ama orang tuanya dan buktinya begitu. Dan ketemu dan bersama saya Cuma waktu setelah pulang kerja itupun Cuma 1 jam atau 2 jam. ( kemudian terjadi internal dialectics di diri saya aku kan bersama dia juga karena dia seneng dan sayang ama aku aku pun sebaliknya kalau dia merasa seperti itu salah aku kan begini bukti bahwa aku itu bener- bener sayang dan cinta kedia dan takut kalau ditinggal dia tahapan connedtedness ).
Dan pada suatu kesempatan kekasih saya memang melakukan tidak datang berduaan ke tempat saya tapi minta langsung pulang kerumah setelah bekerja dan saya suruh menghatarkan. ( Kekasih saya berfikir dengan begini akan terjadi berimbang karena dia bisa di rumah berkumpul dengan orang tuanya tapi saya berfikir merasa tidak nyaman dan kurang nyaman karena saya mesti bersikap formal ke kedua orang tuanya sedangkan saya pengenya santai. Disini masuk ke tahapan internal dialectis tahap certainty - uncertanty dan adanya closedness)
Akhirnya saya terjadi obrolan dengan keluarganya ikut menonton tv dan juga ikut – ikutan bermain sama keponakanya yang waktu itu sendang datang kerumah menumpang menunaikan shalat dan juga makan di situ. Bebagai obrolan dari berita terkini sampai bola yang jadi favorit dari kekasih saya karena memang dia sangat seneng banget dengan yang namanya sepakbola. Apalagi kalau sudah berbicara mengenai team mancester united team kesanyanganya itu. Setelah beberapa lama kitapun bisa ngobrol lebih nyaman. ( Dear aku kurang merasa nyaman kalau begini terus waktu berduaan kita abis dengan aku mesti berkumpul dengan keluargamau mau gak mau aku gak bisa kasih perhtaian lebih ke dirimu tetapi lebih kekeluargamu kalau ini terus berlanjut jadi merasa gak nyama. Kekasih saya berargumen tapi dengan begini aku kan bisa berbagi dengan keluargaku bisa berkumpul dan bisa sama- sama jadi hubungan kita kelihatan baik dimata kerluarga juga. Hal ini terjadi External dialectics Inclusion-Seclusion, Conventinal, Revelations-concelament dimana masing-masing sudah mengeluarkan apa yang ada dalam hati mereka selama ini dimana terjadi konflik dan tentunya dengan hal ini menjadi lebih terbuka satu sama lain dengan perasaan masing-masing tetapi sadar akan lingkungan mereka saat ini dan menyepakati akan keadaan dan dengan keberadaan masing-masing).
Dengan kejadian itu saya dan kekasih saya makin kuat berhubungan karena ternyata setelah diskusikan dan saya megerti apa maksud dari kekasih saya. Hubungan baik terjalin dan di keluargapun lebih ada kemajuan positif yang membuat citra positif bahwa saya bisa masuk di tengah – tengah keluarga kekasih saya. (terdapat Totality dan terjadi kemajuan dalam hubungan saya).
Suatu waktu saya melihat hp kekasih saya dan ada nomor telpon yang ternyata itu adalah mantan dia sebelumnya saya kesal dan merasa wah ini sudah penghianatan lah ko masih bertelpon ria padahal dia kan sudah jadi kekasih saya apa ini maksudnya semua? Kekasih saya kaget dan gak mau melakukan lagi tapi dia berargumen ;” dia hanya menyakan kondisi saya saja ko dan tidak macam – macam kalau macam- macam saya juga ndak mau dan akan aku putusin telponya.
(Di sini kekasih saya melakukan Denial dan terjadi spiraling inversion dan segmentation satu sama lain dalam situasi konflik di atas dimana masing-masing menjadi lebih dominan dan saling mempengaruhi satu sama lain).
Kekasih saya minta maaf dan tidak lagi mau menerima telpon ke kasihnya dan sayapun juga minta maaf atas hal itu karena saya merasa cemburu jangan – jangan dia mau ninggalin saya.

Narrative Paradigm

Narrative Paradigm
NarrativeMiles Campbell berguling-guling di tempat tidurnya dan berusaha untuk mematikan alarmnya. Ia masih bersembunyi di balik selimutnya beberapa menit sebelum dia menyadarkan diri untuk bangun atau dia merindukan chem lab-nya. Dia tergoda untuk kembali tidur, tetapi wajah ibunya bercahaya sebelumnya. Dia berpikir tentang bagaimana sulitnya sang ibu bekerja untuk membantunya untuk bisa bersekolah di perguruan tinggi. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya dengan tidak bekerja dengan baik. Miles kemudian menarik nafas panjang dan mengangkat bahunya. Lau, dia bergegas bangkit dari kasur dan menceburkan mukanya ke dalam air dingin. Dia pun mengambil baju dan topi di dapur, dengan begitu hidupnya terasa lebih baik.
Di dapur ia mendengar suara tetangganya, Robert dan Carlos. Mereka mengusulkan tentang sesuatu. Seperti pagi yang biasanya, Miles berpikir. Ada dua hal yang tidak asing lagi: ”apa yangtelah kamu lakukan dan berteriak pada pagi-pagi buta?”. Miles bertanya karena waktu itu ia memulai sarapan. Robert dan Carlos mencari dan membawa Miles. ”Kamu tidak berpikir itu suatu kesepakatan besar, Miles”. Carlos berkata, ”Tetapi kami akan mendiskusikan calon yang akan menjadi presiden assosiasi multicultural student. ”Ya, kamu benar, Carlos!” Miles tertawa. ”Tidak sama seperti sesuatu yang sia-sia berargumen tentangku!”
Robert memberikan Miles kopian dari dua selebaran kampanye. ”Baik, kamu mungkin tidak berpikir itu semua adalah kesepakatan yang besar, tetapi lihatlah perbedaan di antara keduanya dan katakan padaku bahwa Laura Huyge lebih buruk daripada Jorge Vega.” Miles mengejabkan mata pada dua flyers yang diberikan oleh Robert. Huyge merupakan lulusan siswa Asian American dan ia telah mempresentasikan 10 point yang menjelaskan platform-nya. Dia berupaya untuk menarik perhatian dalam mempromosikan cultural sensitivty dan apresiasi dalam mengubah student body. Di dalam flyers tersebut juga mencantumkan beberapa cara yang dia rencanakan untuk melengkapi cita-citanya. Inisiatifnya yang pertama, ia memilih untuk mensposori toko dengan outside speakers dan beberapa aktivitas untuk memberikan perbedaan etnik yang menceritakan satu dengan yang lainnya tentang perbedaan dan penghargaan.
Miles mencari Robert dan Carlos dan mengatakan ”Baik, Laura tampaknya cukup beralasan.” Robert menepuk punggung Miles dan tersenyum. Carlos interupsi dan mengatakan “Wah, kamu belum melihat apa yang Jorge katakan. Tetaplah membaca, Miles!”
Miles meletakkan flyer tentang Laura di sisi lain dan mengambil flyer tentang Jorge. Jorge memilih gaya presentasi yang berbeda untuk kampanye flyer-nya. Tidak seperti milik Laura, di dalam flyers Jorge adanya serial cerita pendek, salah satunya menceritakan adanya gap antara mahasiswa berkulit putih dan mahasiswa berkulit hitam dalam suatu universitas.
Miles pun membaca 3 seri cerita pendek itu dan dia berpikir bahwa Jorge merupakan orang yang dingin. Deskripsinya tentang hidup pada universitas hádala akurat. Dia sendiri telah diacuhkan dalam kelas. Selain itu, jarang sekali ada orang lain (yang berasal dari ras lain) yang masuk ke dalam kehidupan sosialnya, kecuali Carlos dan teman dekatnya Carlos yang juga sama-sama orang Latin. Dia tidak pernah bersosialisai dengan orang kulit putih di kampus. Jorge memberikan Miles untuk benyak berpikir lagi, dan, jika dia memvoting, dia akan memvoting untuk Jorge.
Narrative Paradigm mengembangkan kepercayaan bahwa manusia-manusia adalah pencerita-pencerita dan bahwa nilai-nilai, emosi-emosi, dan pemikiran-pemikiran estetis berdasar kepercayaan-kepercayaan dan tingkah laku kita.
Dalam kata lain, kita lebih diyakinkan oleh sebuah cerita yang bagus daripada sebuah argumen yang bagus.
Robert Roeland (1989) berpendapat bahwa ide yang masyarakat yang pada dasarnya pencerita yang telah diadopsi oleh banyak mata pelajaran yang berbeda-beda termasuk sejarah, biologi, antropologi, sosiologi, psikologi dan teologi. Pelajaran komunikasi juga dipengarugi oleh ketertarikan dalam narasi. John Lucaites dan Celeste Condit (1985) menyatat “kepercayaan yang tumbuh yang cerita menggambarkan alat yang universal dalam kesadaran manusia”.
Sebuah paradigma adalah konsep yang lebh luas daripada teori. Fisher menyatakan bahwa “tidak ada gender, termasuk komunikasi secara tekhnik, hal itu bukanlah episode didalam cerita kehidupan”.
Fisher menyatakan bahwa penggunaannya dalam istilah paradigm mengacu kepada sebuah usaha untuk menyusun dan mengatur pengertian kita dalam pengalaman dari semua komunikasi manusia.
Penggunaan istilah paradigm mengindikasikan bahwa pemikir an Fisher mewakili sebuah perubahan yang mayor dari pemikiran yang telah mendukung teori komunikasi yang paling terdahulu. Fisher percaya bahwa dia menangkap pokok sifat alami manusia dengan pandangan bahwa kita adalah pencerita dan kita mengalami kehidupan kita dalam susunan cerita.
Dia mengkontraskan pendekatannya dengan apa yang ia sebut paradigma rasional yang mengkarakterkan pemikiran barat sebelumnya. Dengan cara ini Fisher menghadirkan apa yang bisa disebut sebagai paradigm shift, atau perubahan signifikan dalam cara masyarakat berpikir tentang dunia dan artinya.
Fisher (1987) menjelaskan paradigm shift dengan menghitung kembali sejarah singkat dari paradigma yang telah memandu pemikiran barat. Dia mencatat bahwa logo pada asalnya bermaksud sebuah kombinasi dari konsep termasuk cerita, rasional, percakapan dan pemikiran. Fisher menjelaskan bahwa maksud ini bertahan sampai pada waktu Plato dan Aristotle, yang membedakan antara logo-logo sebagai alasan dan mitos sebagai cerita dan emosi. Dalam pemisahan ini, mitos mewakili percakapan puitis, yang ditugaskan hubungan status negatif kepada logo-logo atau alasan.
Menurut Aristotlr beberapa percakapan adalah superior kepada lainnya dengan menguntungkan hubungannya kepada pengetahuan yang benar. Hanya logo-logo, Aristotles melanjutkan, yang menuju pada pengetahuan sejati karena hal itu menyediakan sebuah sistem logika yang terbukti benar.
Logo ditemukan didalam percakapan filosofi. Bentuk lain dari percakapan mengarah pada pengetahuan, tetapi pengetahuan yang mereka hasilkan adalah bersifat mungkin, tidak benar dalam sebuah keabsolutan, dalam pengertian yang tidak berubah-rubah.
Perbedaan Aristotelian tidak mencegah Aristotle sendiri dari menghargai berbagai bentuk dari komunikasi, tetapi hal itu menyediakan sebuah rasional untuk nantinya para teoritikus dalam lebih memilih logika dan alasan dibandingkan mitos, cerita dan retorik.
Revolusi ilmiah menurunkan filosofi sebagai sumber dari logika, menempatkan logika daripada dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi Fisher berpendapat bahwa perubahan ini tidaklah jauh dalam jangkauan karena filosofi dan ilmu memberi kesempatan sebuah sistem formal dari logika yang melanjutkan untuk meninggalkan puitis atau retorik dalam sebuah penurunan nilai.
Rational world paradigm adalah sebuah sistem logika yang digunakan oleh banyak peneliti dan para ahli.
Fisher berpendapat bahwa “ penerimaan dari narrative paradigm merubah kontroversi dari sebuah fokus dalam seseorang yang mempunyai logo-logo ke sebuah fokus dalam kejadian spesifik dalam percakapan, tanpa menganggap bentuk, menyediakan panduan yang paling terpercaya dan diinginkan dan dalam kondisi seperti apa”.
Jadi, Narrative Paradigm menggambarkan cara yang berbeda dari pemikiran tentang dunia daripada yang dibayangkan oleh paradigma dunia rasional.
Narrative Paradigm menghadirkan sebuah alternatif kepada paradigma dunia rasional tanpa menghilangkan tradisional rasional. Fisher berargumen bahwa Narrative Paradigm mencapai perubahan ini melalui pengenalan bahwa “beberapa percakapan lebih benar, dapat diandalkan dan dapat dipercaya dalam penghormatan kepada pengetahuan, kebenaran, dan realita daripada percakapan lainnya, tetapi tidak ada bentuk atau gender yang mempunyai klaim akhir untuk kebaikan ini”.
Fisher menegaskan bahwa cerita atau mitos diilhami dari semua usaha komunikasi manusia karena semua argumen termasuk “ide-ide yang tidak dapat dibuktikan dalam cara yang mutlak. Ide seperti itu muncul dalam metafora, nilai-nilai, isyarat dan yang lainnya”. Jadi Fisher mencoba untuk menjembatani pembagian antara logo-logo (argumen rasional) dan mitos (cerita atau narasi)
Assumptions of the Narrative Paradigm.
Walaupun Fisher mencoba untuk menunjukkan Narative paradigm sebagai perpaduan dari logika dan estetika, dia melakukan batas keluar bahwa logika narrative merupakan perbedaan dari logika tradisonal dan pertimbangan. Kita akan membahas bagaimana dua perbedaan ini seluruhnya karena ini perbedaan yang penting bagi Fisher dan dia secara terus menerus menyaring pemikirannya tentang dikembangkannya Narative paradigm. Aspek pentingnya dari asumsi Narative Paradigm adalah bahwa mereka berbeda dengan paradigma dunia rasional, dan itu hanya sebagai dua logika berbeda.
Fisher (1987) menetapkan Lima Asumsi:
  1. manusia tentu saja merupakan seorang pencerita.
  2. Keputusan tentang cerita yang memiliki manfaat didasarkan pada pertimbangan yang baik
  3. Pertimbangan yang baik ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan karakter
  4. Rasionalitas didasarkan pada pertimbangan orang-orang terhadap konsistensi cerita dan pada keadaan yang sesungguhnya
  5. Pengalaman kita di dunia seperti dipenuhi dengan cerita-cerita dan kita harus memilih diantaranya.
Kita dapat melihat bagaimana menjelaskan perbedaan ini menuju asumsi parallel Fisher yang menyoroti ke dalam paradigma dunia rasional. Perbedaan ini dinyatakan dalam table 20.1
Kita akan membahas dan memberi penjelasan secara ringkas setiap asumsi dari Narative Paradigm, dan membandingan itu semua dengan perlawanan mereka dalam paradigma dunia rasional.
Pertama, asumsi Narrative Paradigm mengungkapkan bahwa sifat-sifat dasar manusia bersumber pada cerita dan bercerita. Cerita mempersuasi kita, menggerakkan kita, dan membentuk dasar bagi kepercayaan dan tindakan kita.
Contoh: Miles tidak dapat mendengarkan banyak mengenai pemilihan presiden dari Multicultural Student Association di kampus. Sebenarnya Miles agak apatis tentang pemilihan dan tidak tertarik atau berpendapat tentang salah satu kandidat. namun setelah membaca cerita-cerita yang memaksakan bahwa Jorge dimasukkan dalam bahan kampanye, Miles memutuskan untuk memilih Jorge. Miles menemukan materi Laura yang menarik akan tetapi tidak sperti Jorge. Jika asumsi dari paradigma dunia rasional benar, kita akan menyangka banyak pendapat rasional akan mengubah pendirian Miles, dan dia akan menentukan untuk memilih Laura. Disini Narrative Paradigm akan menjelaskan mengapa pilihannya untuk Jorge.
Fisher juga percaya, pada asumsi pertama karena dia mengamati bahwa narrative adalah universal – ditemukan dalam semua budaya dan periode waktu. fisher menegaskan bahwa “Ethika apa saja, apakah sosial, politik, legal atau sebaliknya melibatkan narrative” (1984, p. 3)
Keuniversalan dari narrative mendorong fisher untuk menyatakan istilah Homo narrans sebagai suatu metaphor untuk mendefinisikan umat manusia. Fisher dipengaruhi datangnya teori pembacaan moral yang didukung oleh Alasdair Maclntyre. (1981)
Dia mengamati bahwa “Laki-laki dalam tindakan dan prakteknya seperti dalam khayalannya, pada dasarnya menceritakan binatang” Fisher menggunakan gagasan MacIntyre sebagai fondasi dari Narrativ Paradigm. James Elkins (2001) setuju dengan asumsi Fisher tersebut tentang pusat dari cerita manusia. Elkins mengamati bahwa:
Kita menggunakan cerita dalam setiap aspek kehidupan kita – Untuk memberikan waktu dalam menyampaikan informasi, dan untuk membiarkan sesorang tahu siapa kita agar menempatkan kita dalam sebuah tempat, keluarga dan komunitas. Kita mengubah cerita-cerita untuk dua hal, bertahan dan mengimajinasi, untuk mencapai tujuan instrumental, kesenangan, dan karena keharusan kita. Kisah merupakan bagian dari peninggalan manusia.
Catatan penelitian mendeskripsikan bahwa dengan belajar menunjukkan pentinganya sebuah kisah bagi orang-orang tua yang memiliki kanker dan memberi kepedulian terhadap mereka.
Asumsi kedua dari Narrative Paradigm menyatakan bahwa orang-orang mebuat keputusan mengenai cerita yang mana yang dapat diterima dan yang mana yang ditolak sebagai dasar dari apa yang membuat pengertian mereka atau sebagai alasan yang tepat. Kita akan membahas apa yang Fisher maksud dengan alasan tepat tersebut, tetapi dia tidak menunjukkan apa dengan cara logika sempurna atau dengan pendapat. Asumsi ini mengakui bahwa tidak semua kisah sama-sama berhasil; malahan factor untuk penentuan dalam memilih diantara cerita-cerita merupakan perseorangan daripada kode abstrak dari pendapat, atau apa kita menyebutnya alasan. Dari sudut pandang Fisher, dalam kita memulai sketsa, Laura menceritakan cerita dalam percobaan kampanyenya. Miles sederhana memilih untuk menolak ceritanya dan menerima Jorge karena itu secara pribadi menyangkut dirinya.
Selama orang mendengarkan cerita-cerita konflik ini, mereka memilih diantara mereka. Pilihan mereka tidak terbentuk dari traditional logic tapi dari narrative logic. Ketika Orang-orang mengubah traditional logic ke narrative logic, Fisher percaya hidup mereka akan lebih baik karena narrative logic lebih demokratis daripada formal logic. Fisher menyatakan “Semua orang memiliki kapasitas untuk berpikir rasional terhadap kompleksitas dari system logika, Narrative Paradigm menyebutkan bahwa setiap orang memiliki kebijaksanaan.
Asumsi yang ketiga menguraikan hal khusus apa yang dapat mempengaruhi pilihan orang-orang dan memberikan alasan yang beik bagi mereka. Paradigma dunia rasional berasumsi bahwa pendapat diatur dengan mendiktekan kebaikan ( Toulmin,1958 ) sebagai cara mengambil keputusan. Pergerakan ini membutuhkan pertimbangan kebaikan atau dengan pemeriksaan dari formal logic sebagai pedoman mengambil keputusan. Pertentangannya Narrative paradigm mengungkapkan bahwa kebaikan tidak hanya sebagai cara untuk mengevaluasi alasan yang tepat. Faktanya, kebaikan mungkin tidak akurat untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang membuat keputusan. Narrative Paradigm menganggap bahwa narrative rationality dipengaruhi oleh sejarah, biografi, budaya dan karakter. Lalu Fisher mengenalkan gagasan dari konteks Narrative Paradigm. Orang-orang dipengaruhi oleh isinya yang mereka tanamkan. Oleh karena itu materinya memunculkan persuasive kepada Miles, materinya sangat relevan dalam kehidupannya. Itu bukan merupakan materi yang melekat dalam mengkode formal logic dan kepercayaan.
Asumsi yang keempat membentuk inti persoalan dari datangnya narrative. Ini menyatakan bahwa orang-orang percaya pada cerita-ceritasejauh cerita-cerita tersebut dilihat sebagai konsistensi internal dan penuh kebenaran. Kita akan mendiskusikan lebih lanjut dalam sesi selanjutnya ketika kita menjelaskan konsep dari narrative rationality.
Akhirnya perspective Fisher didasarkan pada asumsi bahwa dunia disusun dari cerita-cerita dan kita memilih salah satu diantaranya, kita mengalami kehidupan yang berbeda-beda, yang membolehkan kita untuk menciptakan kembali hidup kita. Pilihan Miles untuk mendukung Jorge mungkin menyebabkan dia untuk memberikan cerita kehidupannya yang berbeda. Dia mungkin tidak melihat dirinya seperti seorang penyendiri. Dia mungkin merubah pengertian tindakan politik yang didasarkan pada pilihannya untuk cerita Jorge.Kamu dapat melihat bagaimana narrative paradigm bertentangan dengan Paradigma dunia rasional, dimana cenderung untuk melihat dunia seperti less transient dan perubahan.untuk menemukan kebenaran dengan analisis rasional. bukan menggunakan emosional respon narrative logic dalam memaksakan cerita-cerita.
Key Conccepts In the Narative Approach
Menyusuri dari narative paradigm membawa kita kepada sebuah pemikiran dari beberapa konsep utama yang membentuk inti dari kerangka pekerjaan teoretis: Narasi, rasional cerita, dan logika dari alasan-alasan yang baik.
Narration
Narration sering dianggap hanya sebagai sebuah narasi tetapi untuk Fisher narasi adalah lebih dari sekedar sebuah cerita, dengan bagian awal, tengah dan akhir. Dalam sudut pandang Fisher, narration mencangkup perhitungan verbal atau non verbal dengan rangkaian dari peristiwa-peristiwa dimana pendengar menempatkan sebuah makna. Khususnya Fisher menyatakan “Ketika saya menggunakan ‘narration’ saya tidak bermaksud komposisi fiktif yang mungkin benar atau salah yang mempunyai hubungan yang tidak perlu untuk pesan dari komposisi itu. Dengan ‘narration’, maksud saya tindakan-tindakan simbolik, kata-kata atau perbuatan, yang mempunyai rangkaian dan makna untuk mereka yang hidup, menciptakan, atau menafsirkannya”.
Hal ini tentunya Fisher menunjuk: Semua komunikasi adalah narrative (cerita). Dia beragumen bahwa narrative bukanlah gender tertentu tetapi lebih kepada cara dari pengaruh sosial.
Narrative Rationality
Narrative rationality adalah sebuah standar untuk menilai cerita – cerita mana untuk dipercaya dan cerita mana untuk dibuang. Hal ini agak berbeda dari metode tradisional yang ditemukan didalam paradigma dunia rasional. Narrative rationality berbeda dengan traditional logic (logika tradisional) yang mengoperasikan dalam dasar dari dua prinsip yang berbeda: hubungan dan kebenaran.
Coherence (masuk akal, konsisten)
Prinsip dari coherence adalah standar yang penting untuk menilai narrative rationality, yang pada akhirnya akan menentukan apakah seseorang akan menerima atau tidak cerita tertentu.
Coherence adalah prinsip dari narrative rationality yang menilai ketetapan internal dari sebuah cerita. Cerita mempunyai konsistensi ketika semua bagian dari cerita disajikan; kita tidak merasa bahwa sang pencerita telah meninggalkan poin penting atau unsur yang disangkal dalam sebuah cerita dalam cara apapun. Coherence adalah standar dari kemasuk akalan yang digunakan dalam cerita yang diberikan. Kemasuk akalan ini biasanya diraih ketika karakter didalam sebuah cerita bertingkah laku secara konsisten.
Coherence sering diukur oleh keorganisasian dan susunan unsur cerita.Ketika si pencerita melewati dan meninggalkan informasi penting, menginterupsi aliran cerita untuk menambahkan unsur yang terlupakan pada awalnya, dan secara umum tidak lancar dalam menyusun cerita, pendengar dapat menolak cerita untuk tidak memiliki coherence.
STRUCTURAL COHERENCE (susunan yang masuk akal)
Jenis konsistensi yang Fisher sebut sebagai structural coherence terhenti pada tingkatan dimana unsur-unsur dalam cerita mengalir dengan lancar. Ketika cerita membingungkan, atau ketika satu bagian tidak terlihat berkesinambungan dengan bagian selanjutnya atau ketika jalan cerita tidak jelas, maka cerita itu susunannya kurang masuk akal.
MATERIAL COHERENCE
Material coherence adalah sebuah tingkatan dari kesesuaian antara cerita satu dengan yang lainnya yang terlihat berhubungan dengannya.
CHARACTEROLOGICAL COHERENCE
Characterological coherence adalah karakter-karakter didalam cerita yang dapat dipercaya. Fidelity (kebenaran) adalah cerita yang penuh dengan kebenaran atau dapat dipercaya. Cerita dengan kebenaran terdengar benar kepada pendengar. Fisher mencatat bahwa ketika unsur-unsur dari sebuah cerita “menggambarkan pernyataan yang tegas tentang realita sosial”, cerita itu mempunyai kebenaran.
THE LOGIC OF GOOD REASONS.
Berhubungan dengan ide Fisher tentang kebenaran adalah metode utama yang dia ajukan untuk menilai kebenaran cerita: logika dari alasan-alasan yang baik. Fisher menegaskan bahwa ketika cerita mempunyai kebenaran, cerita-cerita itu menyatakan alasan-alasan yang baik untuk seseorang memegang kepercayaan tertentu atau untuk mengambil tindakan.
Jadi, logika untuk narrative paradigm memampukan seseorang untuk memutuskan harga dari sebuah cerita.
Logika dari good reasons menggambarkan seorang pendengar dengan serangkaian dari nilai-nilai yang menarik untuk nya dan membentuk tuntutan untuk menerima atau menolak nasihat oleh bentuk apapun dari cerita.
Hal ini tidak bermaksud bahwa alasan yang baik apapun adalah sama dengan yang lainnya; hal itu hanya mempunyai maksud bahwa apapun yang mendorong seseorang untuk percaya, sebuah cerita dibatasi kepada sebuah nilai atau gambaran apa yang baik.
Sebagaimana Fisher jelaskan, logika ini adalah sebuah proses yang terdiri dari dua seri dari lima pertanyaan pertama yang pendengar tanyakan tentang sebuah cerita. Lima pertanyaan pertama itu adalah sebagai berikut:
  1. Apakah pernyataan di dalam cerita yang dinyatakan faktual benar-benar faktual?
  2. Apakah ada fakta-fakta relevan telah dihilangkan dari cerita atau dirubah dalam penceritaannya?
  3. Pola-pola apakah dari pertimbangan yang ada didalam cerita?
  4. Serelevan apakah argumen-argumen didalam cerita kepada keputusan apapun yang dapat dibuat oleh pendengar?
  5. Sebagus apakah cerita itu mengarahkan topik pembicaraan yang penting dalam kasus ini?
Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebuah logika dari alasan-alasan. Untuk mengubah hal ini kepada sebuah logika dari alasan-alasan yang bagus, ada lima pertanyaan lagi yang memperkenalkan nilai dari konsep kepada proses dari penilaian pengetahuan praktis. Pertanyaan-pertanyaan adalah sebagai berikut:
  1. Apakah nilai implisit dan eksplisit yang terkandung dalam cerita?
  2. Apakah nilai-nilai itu sesuai dengan keputusan yang relevan dengan cerita?
  3. Apakah yang akan menjadi efek dari menganut nilai-nilai yang ditanamkan dalam cerita?
  4. Apakah nilai-nilai itu berlaku dalam pengalaman hidup?
  5. Apakah nilai-nilai dari cerita adalah dasar dari tingkah laku manusia yang ideal?
Sebagaimana Narrative Paradigm prediksi, cerita yang diceritakan dengan baik- terdiri dari narrative rationality (cerita yang rasional)- adalah lebih meyakinkan untuk pembaca daripada kesaksian ahli yang menyangkal ketepatan faktual dari cerita.

Source : http://komunikasi-indonesia.org/2009/11/narrative-paradigm/#more-post-1325

Mendefinisikan Teori Komunikasi

theory communicationTheories are maps of reality. Teori adalah peta dari kenyataan atau realitas. Ibarat kita sedang memasuki sebuah kawasan yang belum kita ketahui, maka kita memerlukan sebuah peta guna menghindari kemungkinan untuk tersesat di jalan. Secara sederhana itulah manfaat sebuah teori. Teori adalah sebuah panduan guna menapaki sebuah perjalanan, dalam hal ini perjalanan kita dalam mendalami ilmu komunikasi.
Teori adalah pilar utama ilmu pengetahuan. Melalui teori, ilmu komunikasi menjadi terus hidup, dan terus berkembang, dalam sebuah siklus sirkuler yang terus menerus.
Teori menciptakan pertanyaan atau permasalahan tentang suatu realitas. Dari suatu permasalahan kemudian memicu terjadinya berbagai macam penelitian atau observasi untuk mencari suatu jawaban dari pertanyaan atau permasalahan tersebut. Hasil dari observasi atau penelitian pada akhirnya mencetuskan suatu teori, yang pada nantinya teori ini dapat mengembangkan ilmu itu sendiri, dibantah, digugurkan, atau menciptakan berbagai pertanyaan atau permasalahan keilmuan yang lainnya.
Teori bukan sekedar sebuah penjelasan semata. Lebih dari itu teori merupakan sebuah cara pandang bagaimana kita melihat suatu fenomena, melihat realitas, dan bagaimana kita memahami realitas tersebut.
Empat Elemen Dasar Teori:
  • Philosophical assumption, or basic beliefs that underlie the theory
  • Concept, or building blocks,
  • Explanations, or dynamic connections made by the theory
  • Principles, or guidelines for actions
Teori memiliki asumsi filosofis. Artinya, tiap-tiap teori melihat suatu persoalan dalam sudut pandang filsafat tertentu. Dalam teori komunikasi, tiap teori komunikasi artinya memiliki penilaian filosofis tertentu terhadap satu fenomena komunikasi yang dibahasnya. Dan bisa jadi satu fenomena yang sama dapat dilihat secara berbeda-beda tergantung bagaimana teori tersebut melihat dari sudut pandang filosofis yang mana.
Teori memiliki konsep atau kerangka yang membangunnya. Satu teori pada adasarnya dibangun atas sejumlah konsep. Jika teori dilihat sebagai sebuah paragraf, maka konsep- ini adalah kalimat yang dirangkai menjadi sebuah paragraf. Sederhananya seperti itu.
Teori memiliki penjelasan. Maksudnya adalah, teori memiliki sejumlah konsep. Yang mana kemudian konsep-konsep tadi juga berperan untuk menjelaskan tentang apa-apa yang dimaksudkan di dalamnya. Teori oleh karenanya harus mampu untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh teori itu sendiri. Harus mampu untuk menjabarkan dirinya sendiri.
Teori juga seringkali memiliki prinsip-prinsip atau semacam petunjuk bagaimana tata cara penerapan dari teori tersebut. Ini semacam ‘petunjuk praktis’ atau tuntutan bagaimana penerapan suatu teori pada praktik di lapangannya. Akan tetapi, tidak semua teori memiliki kaidah semacam ini.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan teori komunikasi? Sasa Djuarsa mendefinisikan teori komunikasi sebagai “konseptualisasi atau penjelasan logis tentang fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia.” Peristiwa yang dimaksud, mencakup produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Daftar Pustaka:
Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003
Djuarsa Sendjaja, Sasa, et.al. Teori Komunikasi, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004
Source