Narrative Paradigm

Miles
Campbell berguling-guling di tempat tidurnya dan berusaha untuk
mematikan alarmnya. Ia masih bersembunyi di balik selimutnya beberapa
menit sebelum dia menyadarkan diri untuk bangun atau dia merindukan chem
lab-nya. Dia tergoda untuk kembali tidur, tetapi wajah ibunya bercahaya
sebelumnya. Dia berpikir tentang bagaimana sulitnya sang ibu bekerja
untuk membantunya untuk bisa bersekolah di perguruan tinggi. Dia tidak
ingin mengecewakan ibunya dengan tidak bekerja dengan baik. Miles
kemudian menarik nafas panjang dan mengangkat bahunya. Lau, dia bergegas
bangkit dari kasur dan menceburkan mukanya ke dalam air dingin. Dia pun
mengambil baju dan topi di dapur, dengan begitu hidupnya terasa lebih
baik.
Di dapur ia mendengar suara tetangganya, Robert dan Carlos. Mereka
mengusulkan tentang sesuatu. Seperti pagi yang biasanya, Miles berpikir.
Ada dua hal yang tidak asing lagi: ”apa yangtelah kamu lakukan dan
berteriak pada pagi-pagi buta?”. Miles bertanya karena waktu itu ia
memulai sarapan. Robert dan Carlos mencari dan membawa Miles. ”Kamu
tidak berpikir itu suatu kesepakatan besar, Miles”. Carlos berkata,
”Tetapi kami akan mendiskusikan calon yang akan menjadi presiden
assosiasi multicultural student. ”Ya, kamu benar, Carlos!” Miles
tertawa. ”Tidak sama seperti sesuatu yang sia-sia berargumen tentangku!”
Robert memberikan Miles kopian dari dua selebaran kampanye. ”Baik,
kamu mungkin tidak berpikir itu semua adalah kesepakatan yang besar,
tetapi lihatlah perbedaan di antara keduanya dan katakan padaku bahwa
Laura Huyge lebih buruk daripada Jorge Vega.” Miles mengejabkan mata
pada dua flyers yang diberikan oleh Robert. Huyge merupakan lulusan
siswa Asian American dan ia telah mempresentasikan 10 point yang
menjelaskan platform-nya. Dia berupaya untuk menarik perhatian dalam
mempromosikan cultural sensitivty dan apresiasi dalam mengubah student
body. Di dalam flyers tersebut juga mencantumkan beberapa cara yang dia
rencanakan untuk melengkapi cita-citanya. Inisiatifnya yang pertama, ia
memilih untuk mensposori toko dengan outside speakers dan beberapa
aktivitas untuk memberikan perbedaan etnik yang menceritakan satu dengan
yang lainnya tentang perbedaan dan penghargaan.
Miles mencari Robert dan Carlos dan mengatakan ”Baik, Laura tampaknya
cukup beralasan.” Robert menepuk punggung Miles dan tersenyum. Carlos
interupsi dan mengatakan “Wah, kamu belum melihat apa yang Jorge
katakan. Tetaplah membaca, Miles!”
Miles meletakkan flyer tentang Laura di sisi lain dan mengambil flyer
tentang Jorge. Jorge memilih gaya presentasi yang berbeda untuk
kampanye flyer-nya. Tidak seperti milik Laura, di dalam flyers Jorge
adanya serial cerita pendek, salah satunya menceritakan adanya gap
antara mahasiswa berkulit putih dan mahasiswa berkulit hitam dalam suatu
universitas.
Miles pun membaca 3 seri cerita pendek itu dan dia berpikir bahwa
Jorge merupakan orang yang dingin. Deskripsinya tentang hidup pada
universitas hádala akurat. Dia sendiri telah diacuhkan dalam kelas.
Selain itu, jarang sekali ada orang lain (yang berasal dari ras lain)
yang masuk ke dalam kehidupan sosialnya, kecuali Carlos dan teman
dekatnya Carlos yang juga sama-sama orang Latin. Dia tidak pernah
bersosialisai dengan orang kulit putih di kampus. Jorge memberikan Miles
untuk benyak berpikir lagi, dan, jika dia memvoting, dia akan memvoting
untuk Jorge.
Narrative Paradigm mengembangkan kepercayaan bahwa manusia-manusia
adalah pencerita-pencerita dan bahwa nilai-nilai, emosi-emosi, dan
pemikiran-pemikiran estetis berdasar kepercayaan-kepercayaan dan tingkah
laku kita.
Dalam kata lain, kita lebih diyakinkan oleh sebuah cerita yang bagus daripada sebuah argumen yang bagus.
Robert Roeland (1989) berpendapat bahwa ide yang masyarakat yang pada
dasarnya pencerita yang telah diadopsi oleh banyak mata pelajaran yang
berbeda-beda termasuk sejarah, biologi, antropologi, sosiologi,
psikologi dan teologi. Pelajaran komunikasi juga dipengarugi oleh
ketertarikan dalam narasi. John Lucaites dan Celeste Condit (1985)
menyatat “kepercayaan yang tumbuh yang cerita menggambarkan alat yang
universal dalam kesadaran manusia”.
Sebuah paradigma adalah konsep yang lebh luas daripada teori. Fisher
menyatakan bahwa “tidak ada gender, termasuk komunikasi secara tekhnik,
hal itu bukanlah episode didalam cerita kehidupan”.
Fisher menyatakan bahwa penggunaannya dalam istilah paradigm mengacu
kepada sebuah usaha untuk menyusun dan mengatur pengertian kita dalam
pengalaman dari semua komunikasi manusia.
Penggunaan istilah paradigm mengindikasikan bahwa pemikir an Fisher
mewakili sebuah perubahan yang mayor dari pemikiran yang telah mendukung
teori komunikasi yang paling terdahulu. Fisher percaya bahwa dia
menangkap pokok sifat alami manusia dengan pandangan bahwa kita adalah
pencerita dan kita mengalami kehidupan kita dalam susunan cerita.
Dia mengkontraskan pendekatannya dengan apa yang ia sebut paradigma
rasional yang mengkarakterkan pemikiran barat sebelumnya. Dengan cara
ini Fisher menghadirkan apa yang bisa disebut sebagai paradigm shift,
atau perubahan signifikan dalam cara masyarakat berpikir tentang dunia
dan artinya.
Fisher (1987) menjelaskan paradigm shift dengan menghitung kembali
sejarah singkat dari paradigma yang telah memandu pemikiran barat. Dia
mencatat bahwa logo pada asalnya bermaksud sebuah kombinasi dari konsep
termasuk cerita, rasional, percakapan dan pemikiran. Fisher menjelaskan
bahwa maksud ini bertahan sampai pada waktu Plato dan Aristotle, yang
membedakan antara logo-logo sebagai alasan dan mitos sebagai cerita dan
emosi. Dalam pemisahan ini, mitos mewakili percakapan puitis, yang
ditugaskan hubungan status negatif kepada logo-logo atau alasan.
Menurut Aristotlr beberapa percakapan adalah superior kepada lainnya
dengan menguntungkan hubungannya kepada pengetahuan yang benar. Hanya
logo-logo, Aristotles melanjutkan, yang menuju pada pengetahuan sejati
karena hal itu menyediakan sebuah sistem logika yang terbukti benar.
Logo ditemukan didalam percakapan filosofi. Bentuk lain dari
percakapan mengarah pada pengetahuan, tetapi pengetahuan yang mereka
hasilkan adalah bersifat mungkin, tidak benar dalam sebuah keabsolutan,
dalam pengertian yang tidak berubah-rubah.
Perbedaan Aristotelian tidak mencegah Aristotle sendiri dari
menghargai berbagai bentuk dari komunikasi, tetapi hal itu menyediakan
sebuah rasional untuk nantinya para teoritikus dalam lebih memilih
logika dan alasan dibandingkan mitos, cerita dan retorik.
Revolusi ilmiah menurunkan filosofi sebagai sumber dari logika,
menempatkan logika daripada dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi
Fisher berpendapat bahwa perubahan ini tidaklah jauh dalam jangkauan
karena filosofi dan ilmu memberi kesempatan sebuah sistem formal dari
logika yang melanjutkan untuk meninggalkan puitis atau retorik dalam
sebuah penurunan nilai.
Rational world paradigm adalah sebuah sistem logika yang digunakan oleh banyak peneliti dan para ahli.
Fisher berpendapat bahwa “ penerimaan dari narrative paradigm merubah
kontroversi dari sebuah fokus dalam seseorang yang mempunyai logo-logo
ke sebuah fokus dalam kejadian spesifik dalam percakapan, tanpa
menganggap bentuk, menyediakan panduan yang paling terpercaya dan
diinginkan dan dalam kondisi seperti apa”.
Jadi, Narrative Paradigm menggambarkan cara yang berbeda dari
pemikiran tentang dunia daripada yang dibayangkan oleh paradigma dunia
rasional.
Narrative Paradigm menghadirkan sebuah alternatif kepada paradigma
dunia rasional tanpa menghilangkan tradisional rasional. Fisher
berargumen bahwa Narrative Paradigm mencapai perubahan ini melalui
pengenalan bahwa “beberapa percakapan lebih benar, dapat diandalkan dan
dapat dipercaya dalam penghormatan kepada pengetahuan, kebenaran, dan
realita daripada percakapan lainnya, tetapi tidak ada bentuk atau gender
yang mempunyai klaim akhir untuk kebaikan ini”.
Fisher menegaskan bahwa cerita atau mitos diilhami dari semua usaha
komunikasi manusia karena semua argumen termasuk “ide-ide yang tidak
dapat dibuktikan dalam cara yang mutlak. Ide seperti itu muncul dalam
metafora, nilai-nilai, isyarat dan yang lainnya”. Jadi Fisher mencoba
untuk menjembatani pembagian antara logo-logo (argumen rasional) dan
mitos (cerita atau narasi)
Assumptions of the Narrative Paradigm.
Walaupun Fisher mencoba untuk menunjukkan Narative paradigm sebagai
perpaduan dari logika dan estetika, dia melakukan batas keluar bahwa
logika narrative merupakan perbedaan dari logika tradisonal dan
pertimbangan. Kita akan membahas bagaimana dua perbedaan ini seluruhnya
karena ini perbedaan yang penting bagi Fisher dan dia secara terus
menerus menyaring pemikirannya tentang dikembangkannya Narative
paradigm. Aspek pentingnya dari asumsi Narative Paradigm adalah bahwa
mereka berbeda dengan paradigma dunia rasional, dan itu hanya sebagai
dua logika berbeda.
Fisher (1987) menetapkan Lima Asumsi:
- manusia tentu saja merupakan seorang pencerita.
- Keputusan tentang cerita yang memiliki manfaat didasarkan pada pertimbangan yang baik
- Pertimbangan yang baik ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan karakter
- Rasionalitas didasarkan pada pertimbangan orang-orang terhadap konsistensi cerita dan pada keadaan yang sesungguhnya
- Pengalaman kita di dunia seperti dipenuhi dengan cerita-cerita dan kita harus memilih diantaranya.
Kita dapat melihat bagaimana menjelaskan perbedaan ini menuju asumsi
parallel Fisher yang menyoroti ke dalam paradigma dunia rasional.
Perbedaan ini dinyatakan dalam table 20.1
Kita akan membahas dan memberi penjelasan secara ringkas setiap
asumsi dari Narative Paradigm, dan membandingan itu semua dengan
perlawanan mereka dalam paradigma dunia rasional.
Pertama, asumsi Narrative Paradigm mengungkapkan bahwa sifat-sifat
dasar manusia bersumber pada cerita dan bercerita. Cerita mempersuasi
kita, menggerakkan kita, dan membentuk dasar bagi kepercayaan dan
tindakan kita.
Contoh: Miles tidak dapat mendengarkan banyak mengenai pemilihan
presiden dari Multicultural Student Association di kampus. Sebenarnya
Miles agak apatis tentang pemilihan dan tidak tertarik atau berpendapat
tentang salah satu kandidat. namun setelah membaca cerita-cerita yang
memaksakan bahwa Jorge dimasukkan dalam bahan kampanye, Miles memutuskan
untuk memilih Jorge. Miles menemukan materi Laura yang menarik akan
tetapi tidak sperti Jorge. Jika asumsi dari paradigma dunia rasional
benar, kita akan menyangka banyak pendapat rasional akan mengubah
pendirian Miles, dan dia akan menentukan untuk memilih Laura. Disini
Narrative Paradigm akan menjelaskan mengapa pilihannya untuk Jorge.
Fisher juga percaya, pada asumsi pertama karena dia mengamati bahwa
narrative adalah universal – ditemukan dalam semua budaya dan periode
waktu. fisher menegaskan bahwa “Ethika apa saja, apakah sosial, politik,
legal atau sebaliknya melibatkan narrative” (1984, p. 3)
Keuniversalan dari narrative mendorong fisher untuk menyatakan
istilah Homo narrans sebagai suatu metaphor untuk mendefinisikan umat
manusia. Fisher dipengaruhi datangnya teori pembacaan moral yang
didukung oleh Alasdair Maclntyre. (1981)
Dia mengamati bahwa “Laki-laki dalam tindakan dan prakteknya seperti
dalam khayalannya, pada dasarnya menceritakan binatang” Fisher
menggunakan gagasan MacIntyre sebagai fondasi dari Narrativ Paradigm.
James Elkins (2001) setuju dengan asumsi Fisher tersebut tentang pusat
dari cerita manusia. Elkins mengamati bahwa:
Kita menggunakan cerita dalam setiap aspek kehidupan kita – Untuk
memberikan waktu dalam menyampaikan informasi, dan untuk membiarkan
sesorang tahu siapa kita agar menempatkan kita dalam sebuah tempat,
keluarga dan komunitas. Kita mengubah cerita-cerita untuk dua hal,
bertahan dan mengimajinasi, untuk mencapai tujuan instrumental,
kesenangan, dan karena keharusan kita. Kisah merupakan bagian dari
peninggalan manusia.
Catatan penelitian mendeskripsikan bahwa dengan belajar menunjukkan
pentinganya sebuah kisah bagi orang-orang tua yang memiliki kanker dan
memberi kepedulian terhadap mereka.
Asumsi kedua dari Narrative Paradigm menyatakan bahwa orang-orang
mebuat keputusan mengenai cerita yang mana yang dapat diterima dan yang
mana yang ditolak sebagai dasar dari apa yang membuat pengertian mereka
atau sebagai alasan yang tepat. Kita akan membahas apa yang Fisher
maksud dengan alasan tepat tersebut, tetapi dia tidak menunjukkan apa
dengan cara logika sempurna atau dengan pendapat. Asumsi ini mengakui
bahwa tidak semua kisah sama-sama berhasil; malahan factor untuk
penentuan dalam memilih diantara cerita-cerita merupakan perseorangan
daripada kode abstrak dari pendapat, atau apa kita menyebutnya alasan.
Dari sudut pandang Fisher, dalam kita memulai sketsa, Laura menceritakan
cerita dalam percobaan kampanyenya. Miles sederhana memilih untuk
menolak ceritanya dan menerima Jorge karena itu secara pribadi
menyangkut dirinya.
Selama orang mendengarkan cerita-cerita konflik ini, mereka memilih
diantara mereka. Pilihan mereka tidak terbentuk dari traditional logic
tapi dari narrative logic. Ketika Orang-orang mengubah traditional logic
ke narrative logic, Fisher percaya hidup mereka akan lebih baik karena
narrative logic lebih demokratis daripada formal logic. Fisher
menyatakan “Semua orang memiliki kapasitas untuk berpikir rasional
terhadap kompleksitas dari system logika, Narrative Paradigm menyebutkan
bahwa setiap orang memiliki kebijaksanaan.
Asumsi yang ketiga menguraikan hal khusus apa yang dapat mempengaruhi
pilihan orang-orang dan memberikan alasan yang beik bagi mereka.
Paradigma dunia rasional berasumsi bahwa pendapat diatur dengan
mendiktekan kebaikan ( Toulmin,1958 ) sebagai cara mengambil keputusan.
Pergerakan ini membutuhkan pertimbangan kebaikan atau dengan pemeriksaan
dari formal logic sebagai pedoman mengambil keputusan. Pertentangannya
Narrative paradigm mengungkapkan bahwa kebaikan tidak hanya sebagai cara
untuk mengevaluasi alasan yang tepat. Faktanya, kebaikan mungkin tidak
akurat untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang membuat keputusan.
Narrative Paradigm menganggap bahwa narrative rationality dipengaruhi
oleh sejarah, biografi, budaya dan karakter. Lalu Fisher mengenalkan
gagasan dari konteks Narrative Paradigm. Orang-orang dipengaruhi oleh
isinya yang mereka tanamkan. Oleh karena itu materinya memunculkan
persuasive kepada Miles, materinya sangat relevan dalam kehidupannya.
Itu bukan merupakan materi yang melekat dalam mengkode formal logic dan
kepercayaan.
Asumsi yang keempat membentuk inti persoalan dari datangnya
narrative. Ini menyatakan bahwa orang-orang percaya pada
cerita-ceritasejauh cerita-cerita tersebut dilihat sebagai konsistensi
internal dan penuh kebenaran. Kita akan mendiskusikan lebih lanjut dalam
sesi selanjutnya ketika kita menjelaskan konsep dari narrative
rationality.
Akhirnya perspective Fisher didasarkan pada asumsi bahwa dunia
disusun dari cerita-cerita dan kita memilih salah satu diantaranya, kita
mengalami kehidupan yang berbeda-beda, yang membolehkan kita untuk
menciptakan kembali hidup kita. Pilihan Miles untuk mendukung Jorge
mungkin menyebabkan dia untuk memberikan cerita kehidupannya yang
berbeda. Dia mungkin tidak melihat dirinya seperti seorang penyendiri.
Dia mungkin merubah pengertian tindakan politik yang didasarkan pada
pilihannya untuk cerita Jorge.Kamu dapat melihat bagaimana narrative
paradigm bertentangan dengan Paradigma dunia rasional, dimana cenderung
untuk melihat dunia seperti less transient dan perubahan.untuk menemukan
kebenaran dengan analisis rasional. bukan menggunakan emosional respon
narrative logic dalam memaksakan cerita-cerita.
Key Conccepts In the Narative Approach
Menyusuri dari narative paradigm membawa kita kepada sebuah pemikiran
dari beberapa konsep utama yang membentuk inti dari kerangka pekerjaan
teoretis: Narasi, rasional cerita, dan logika dari alasan-alasan yang
baik.
Narration
Narration sering dianggap hanya sebagai sebuah narasi tetapi untuk
Fisher narasi adalah lebih dari sekedar sebuah cerita, dengan bagian
awal, tengah dan akhir. Dalam sudut pandang Fisher, narration mencangkup
perhitungan verbal atau non verbal dengan rangkaian dari
peristiwa-peristiwa dimana pendengar menempatkan sebuah makna. Khususnya
Fisher menyatakan “Ketika saya menggunakan ‘narration’ saya tidak
bermaksud komposisi fiktif yang mungkin benar atau salah yang mempunyai
hubungan yang tidak perlu untuk pesan dari komposisi itu. Dengan
‘narration’, maksud saya tindakan-tindakan simbolik, kata-kata atau
perbuatan, yang mempunyai rangkaian dan makna untuk mereka yang hidup,
menciptakan, atau menafsirkannya”.
Hal ini tentunya Fisher menunjuk: Semua komunikasi adalah narrative
(cerita). Dia beragumen bahwa narrative bukanlah gender tertentu tetapi
lebih kepada cara dari pengaruh sosial.
Narrative Rationality
Narrative rationality adalah sebuah standar untuk menilai cerita –
cerita mana untuk dipercaya dan cerita mana untuk dibuang. Hal ini agak
berbeda dari metode tradisional yang ditemukan didalam paradigma dunia
rasional. Narrative rationality berbeda dengan traditional logic (logika
tradisional) yang mengoperasikan dalam dasar dari dua prinsip yang
berbeda: hubungan dan kebenaran.
Coherence (masuk akal, konsisten)
Prinsip dari coherence adalah standar yang penting untuk menilai
narrative rationality, yang pada akhirnya akan menentukan apakah
seseorang akan menerima atau tidak cerita tertentu.
Coherence adalah prinsip dari narrative rationality yang menilai
ketetapan internal dari sebuah cerita. Cerita mempunyai konsistensi
ketika semua bagian dari cerita disajikan; kita tidak merasa bahwa sang
pencerita telah meninggalkan poin penting atau unsur yang disangkal
dalam sebuah cerita dalam cara apapun. Coherence adalah standar dari
kemasuk akalan yang digunakan dalam cerita yang diberikan. Kemasuk
akalan ini biasanya diraih ketika karakter didalam sebuah cerita
bertingkah laku secara konsisten.
Coherence sering diukur oleh keorganisasian dan susunan unsur
cerita.Ketika si pencerita melewati dan meninggalkan informasi penting,
menginterupsi aliran cerita untuk menambahkan unsur yang terlupakan pada
awalnya, dan secara umum tidak lancar dalam menyusun cerita, pendengar
dapat menolak cerita untuk tidak memiliki coherence.
STRUCTURAL COHERENCE (susunan yang masuk akal)
Jenis konsistensi yang Fisher sebut sebagai structural coherence
terhenti pada tingkatan dimana unsur-unsur dalam cerita mengalir dengan
lancar. Ketika cerita membingungkan, atau ketika satu bagian tidak
terlihat berkesinambungan dengan bagian selanjutnya atau ketika jalan
cerita tidak jelas, maka cerita itu susunannya kurang masuk akal.
MATERIAL COHERENCE
Material coherence adalah sebuah tingkatan dari kesesuaian antara
cerita satu dengan yang lainnya yang terlihat berhubungan dengannya.
CHARACTEROLOGICAL COHERENCE
Characterological coherence adalah karakter-karakter didalam cerita
yang dapat dipercaya. Fidelity (kebenaran) adalah cerita yang penuh
dengan kebenaran atau dapat dipercaya. Cerita dengan kebenaran terdengar
benar kepada pendengar. Fisher mencatat bahwa ketika unsur-unsur dari
sebuah cerita “menggambarkan pernyataan yang tegas tentang realita
sosial”, cerita itu mempunyai kebenaran.
THE LOGIC OF GOOD REASONS.
Berhubungan dengan ide Fisher tentang kebenaran adalah metode utama
yang dia ajukan untuk menilai kebenaran cerita: logika dari
alasan-alasan yang baik. Fisher menegaskan bahwa ketika cerita mempunyai
kebenaran, cerita-cerita itu menyatakan alasan-alasan yang baik untuk
seseorang memegang kepercayaan tertentu atau untuk mengambil tindakan.
Jadi, logika untuk narrative paradigm memampukan seseorang untuk memutuskan harga dari sebuah cerita.
Logika dari good reasons menggambarkan seorang pendengar dengan
serangkaian dari nilai-nilai yang menarik untuk nya dan membentuk
tuntutan untuk menerima atau menolak nasihat oleh bentuk apapun dari
cerita.
Hal ini tidak bermaksud bahwa alasan yang baik apapun adalah sama
dengan yang lainnya; hal itu hanya mempunyai maksud bahwa apapun yang
mendorong seseorang untuk percaya, sebuah cerita dibatasi kepada sebuah
nilai atau gambaran apa yang baik.
Sebagaimana Fisher jelaskan, logika ini adalah sebuah proses yang
terdiri dari dua seri dari lima pertanyaan pertama yang pendengar
tanyakan tentang sebuah cerita. Lima pertanyaan pertama itu adalah
sebagai berikut:
- Apakah pernyataan di dalam cerita yang dinyatakan faktual benar-benar faktual?
- Apakah ada fakta-fakta relevan telah dihilangkan dari cerita atau dirubah dalam penceritaannya?
- Pola-pola apakah dari pertimbangan yang ada didalam cerita?
- Serelevan apakah argumen-argumen didalam cerita kepada keputusan apapun yang dapat dibuat oleh pendengar?
- Sebagus apakah cerita itu mengarahkan topik pembicaraan yang penting dalam kasus ini?
Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebuah logika dari alasan-alasan.
Untuk mengubah hal ini kepada sebuah logika dari alasan-alasan yang
bagus, ada lima pertanyaan lagi yang memperkenalkan nilai dari konsep
kepada proses dari penilaian pengetahuan praktis. Pertanyaan-pertanyaan
adalah sebagai berikut:
- Apakah nilai implisit dan eksplisit yang terkandung dalam cerita?
- Apakah nilai-nilai itu sesuai dengan keputusan yang relevan dengan cerita?
- Apakah yang akan menjadi efek dari menganut nilai-nilai yang ditanamkan dalam cerita?
- Apakah nilai-nilai itu berlaku dalam pengalaman hidup?
- Apakah nilai-nilai dari cerita adalah dasar dari tingkah laku manusia yang ideal?
Sebagaimana Narrative Paradigm prediksi, cerita yang diceritakan
dengan baik- terdiri dari narrative rationality (cerita yang rasional)-
adalah lebih meyakinkan untuk pembaca daripada kesaksian ahli yang
menyangkal ketepatan faktual dari cerita.
Source : http://komunikasi-indonesia.org/2009/11/narrative-paradigm/#more-post-1325